Politik Humor Gus Dur


Oleh Moh. Mahfud M.D.Seorang pejabat tinggi, sebut saja si Fulan, merasa deg-degan dicap sebagai koruptor oleh Gus Dur. Sebab, Gus Dur mengatakan bahwa perbuatan tertentu yang dilakukan si Fulan tak bisa lain kecuali diartikan korupsi. "Dibolak-balik bagaimanapun, itu adalah korupsi. Titik," kata Gus Dur.
Mungkin atas permintaan si Fulan atau diimbau orang lain, salah seorang yang dekat dengan Gus Dur meminta agar Gus Dur tak lagi menyerang si Fulan, apalagi dengan tuduhan korupsi. Si Fulan dalam kasus itu sama sekali tak melakukan korupsi, melainkan sekadar meneruskan secara resmi sebuah permohonan. Apalagi, ada yang memalsukan susbtansi persoalannya. Gus Dur pun setuju untuk tak lagi mengatakan si Fulan korupsi.
Tetapi besoknya, Gus Dur bilang si Fulan itu tergolong teroris karena ikut mendalangi beberapa kerusuhan. Ketika ditanya mengapa masih menyerang si Fulan, padahal sudah menyatakan tak akan menyerangnya lagi, Gus Dur pun menjawab bahwa dirinya sudah memenuhi janji untuk tidak lagi mengatakan si Fulan korupsi. "Saya tadi kan tak bilang dia korupsi, saya hanya bilang teroris," jawabnya enteng.
***
Cerita tersebut menunjukkan kelihaian Gus Dur melakukan serangan politik sambil berkelit dengan mengundang senyum geli. Serangan atau kelitan politik Gus Dur kerap mengundang tawa geli karena selain sangat keras juga lucu. Dia memang dikenal sebagai penyaji humor politik tingkat tinggi.
Kita masih ingat humor politik Gus Dur yang dilempar kepada Presiden Kuba Fidel Castro. Ketika melakukan kunjungan kenegaraan ke Kuba, Gus Dur memancing tawa saat menyelingi pembicaraannya dengan Castro bahwa semua presiden Indonesia punya penyakit gila. Presiden pertama Bung Karno gila wanita, presiden kedua Soeharto gila harta, presiden ketiga Habibie benar-benar gila alias gila beneran, sedangkan Gus Dur sendiri sebagai presiden keempat sering membuat orang gila karena yang memilihnya juga orang-orang gila.
Sebelum tawa Castro reda, Gus Dur langsung bertanya. "Yang Mulia Presiden Castro termasuk yang mana?" Castro menjawab sambil tetap tertawa, "Saya termasuk yang ketiga dan keempat."
Apa selesai sampai di situ? Tidak. Ketika mengunjungi Habibie di Jerman, oleh orang dekat Habibie Gus Dur diminta mengulangi cerita lucunya dengan Castro itu. Merasa tak enak untuk menyebut Habibie benar-benar gila atau gila beneran, Gus Dur memodifikasi cerita tersebut. Kepada Habibie, dia mengatakan, dirinya bercerita kepada Castro bahwa presiden Indonesia hebat-hebat.
Kata Gus Dur, Presiden Soekarno negarawan, Presiden Soeharto seorang hartawan, Presiden Habibie ilmuwan, sedangkan Gus Dur wisatawan.
Selain menghindari menyebut Habibie benar-benar gila, jawaban itu sekaligus merupakan jawaban Gus Dur yang bersahabat atas kritik bahwa dirinya sebagai presiden banyak pergi ke luar negeri seperti berwisata saja.
Gus Dur memang sangat humoris. Bahkan, pelawak-pelawak Srimulat jadi kelabakan jika beradu lucu dengan Gus Dur. Suatu saat, Tarzan Srimulat dan kawan-kawan mengaku kehabisan bahan untuk melucu karena acaranya didahului dengan sambutan Gus Dur yang sangat lucu. Dalam melucu, Gus Dur tak jarang memulai dengan menertawai dirinya sendiri sehingga orang lain tak tersinggung.
Ketika berceramah di depan kerumunan massa, misalnya, Gus Dur mengajak massa untuk membaca salawat bersama-sama dengan suara keras. Setelah itu, dia mengatakan, selain mencari pahala, ajakan membaca salawat tersebut adalah untuk mengetahui berapa banyak orang yang hadir.
"Dengan lantunan salawat tadi, saya jadi tahu berapa banyak yang hadir di sini. Habis, saya tak bisa melihat. Jadi, untuk tahu besarnya yang hadir, ya dari suara salawat saja," jelasnya.
Tapi, humor dan kelitan Gus Dur bukan sekadar lucu-lucuan. Ketika pada 1998/1999 terjadi kontroversi panas mengenai wacana negara kesatuan dan negara federal, Gus Dur menawarkan solusi agak lucu tetapi mengena. Ketika itu, Amien Rais dengan bendera PAN mengajak kita berwacana atau memikirkan kemungkinan Indonesia menjadi negara federal. Menurut Amien, negara federal bisa lebih demokratis diterapkan di negara sebesar Indonesia.
Ajakan itu kontan mendapat tanggapan panas, misalnya, dari Akbar Tandjung (Golkar) dan Megawati (PDIP). Amien diserang habis karena dianggap mau merusak keutuhan dan persatuan bangsa dan negara.
Ketika ditanya soal kontroversi itu, Gus Dur mengatakan, negara federal baik karena menjamin lebih demokratis, sedangkan negara kesatuan baik karena lebih menjamin keutuhan bangsa.
"Kalau saya begini saja, namanya tetap negara kesatuan, tapi isinya pakai negara federal. Gitu saja kok repot," kata Gus Dur dalam wawancara eksklusif dengan RCTI.
***
Entah kebetulan, entak tidak, sesudah itu Amien menarik gagasannya soal wacana negara federal karena banyak yang belum paham. Kata Amien, yang penting lebih demokratis. Kalau nama federal tak diterima, ya sudah. Hebatnya lagi, UU No 22/1999 (kemudian diubah dengan UU No 32/2004) tentang Pemerintah Daerah tetap menganut negara kesatuan, tetapi isinya meniru negara federal.
Dalam UU tersebut, pemerintah pusat hanya diberikan urusan-urusan yang biasa dimiliki negara federal, yaitu keuangan, hubungan luar negeri, hankam, dan peradilan (kemudian ditambah dengan urusan agama).
Saat ini, Gus Dur dirawat di rumah sakit. Tapi, media massa memberitakan bahwa dari tempat perawatannya di RSCM Gus Dur masih terus melontarkan humor-humor politik yang menyegarkan. Humor bagi Gus Dur adalah vitamin yang menyehatkan.
Moh. Mahfud M.D., menteri pertahanan di era Presiden Abdurrahman Wahid, kini anggota DPR-RI dari PKB

Kesaktian politik Gus Dur


Saya pribadi kadang miris melihat "jurus" politik Gus Dur. Sebagai politikus, Gus Dur, to some extent, memang sangat piawai. Bahkan, dulu sewaktu kagak ada partai, hanya tiga partai pada masa Suharto, Gus Dur bisa berpolitik cantik lewat PBNU. Padahal sejak Gus Dur masuk PBNU lewat "kudeta" tahun 84-an bersama-sama kalangan intelektual muda ketika itu, NU mencanangkan diri sebagai organisasi kultural. Tapi, menariknya, PBNU di tangan Gus Dur, malah jadi "partai" kultural. Sedangkan Pak Hasyim, kemaren, menjadikan NU sebagai Ormas yang "politis". Tetapi, saya lebih sering miris kalo membaca langkah zig-zag Gus Dur di panggung politik, terutama di struktur PKB. Kenapa? ***Dear all,Saya pribadi, kadang miris melihat "jurus" politik Gus Dur. Sebagai politikus, Gus Dur, to some extent, memang sangat piawai. Bahkan, dulu sewaktu kagak ada partai, hanya tiga partai pada masa Suharto, Gus Dur bisa berpolitik cantik lewat PBNU. Padahal sejak Gus Dur masuk PBNU lewat "kudeta" tahun 84-an bersama-sama kalangan intelektual muda ketika itu, NU mencanangkan diri sebagai organisasi kultural. Tapi, menariknya, PBNU di tangan Gus Dur, malah jadi "partai" kultural. Sedangkan Pak Hasyim, kemaren, menjadikan NU sebagai Ormas yang "politis".Tetapi, saya lebih sering miris kalo membaca langkah zig-zag Gus Dur di panggung politik, terutama di struktur PKB. Pada masa tertentu Gus Dur sangat demokratis, namun pada masa lain, Gus Dur juga terkesan otoriter. Reposisi Gus Ipul beberapa waktu lalu, saya lihat, sebagai bentuk dominasi Gus Dur yang terlalu besar. Artinya, dalam struktur PKB, Gus Dur ini menghalang-halangi para politisi usia muda untuk mengembangkan karier dan mengasah kemampuan politisnya. SMS Gus Dur kemaren, umpamanya, yang bisa mempengaruhi anggota dewan PKB di DPR, saya kira, sebuah politik cerdas, tapi "kurang mendidik". Saya juga sepakat, ketika nanti Gus Dur sudah wafat, PKB akan gamang, karena politisi PKB kagak dilatih mengasah kemampuan politiknya sejak awal. Pantas saja setelah melepaskan diri dari bayang-bayang Gus Dur, Matori seperti hilang ditelan bumi. Perlawanan Saifullah Yusuf (Gus Ipul) yang dibantu para kiai telah berakhir dengan terjungkalnya Gus Ipul sendiri, dan berarti terjungkalnya kubu struktural PBNU memasang remote-control di PKB.Dalam pengamatan saya, reposisi Gus Ipul yang berlanjut dengan pemberontakan para kiai Jawa tengah dan Jawa Timur saat menjelang pemilu legislatif yang lalu di atas, sebenarnya adalah adanya upaya pendongkelan Gus Dur dari kalangan NU sendiri. Berhasilkan? Kagak. Gus Dur cukup "sakti". Gus Dur masih tetap tambun, bahkan tokoh sekelas KH Mustofa Bisri (Gus Mus) sendiri kagak mampu "mengempeskan perut" Gus Dur.Jadi, ketika Pak Hasyim ingin membangun karier politiknya sendiri tanpa berdiri di bawah bayang-bayang Gus Dur, saya baca, adalah kelanjutan pemberontakan diam-diam tersebut. Dan untuk kesekian kalinya, Gus Dur membuktikan diri bahwa dirinya masih tidak bisa ditumbangkan. Dan pertempuran Hasyim-Gus Dur ini, saya duga, masih akan berlangsung panjang. Kemungkinan ke depan, Hasyim Muzadi akan dipinang oleh PPP untuk menjadi ketua umum partai ini. Kemungkinan kedua, Hasyim bersama kubu "struktural NU", selain akan merebut posisi ketua Tanfidziyah PBNU kembali, juga akan membentuk partai NU baru.Pertarungan masih panjang, dan mendebarkan, bukan?

Kehadiran GUS DUR


yang nyeleneh, vokal, dan kontroversi


Mengapa begitu banyak orang yang memuja sekaligus menghina beliau, tapi memang beliau benar-benar faham dengan keadaan beliau, bukan lantasan alasan bagi beliau untuk berhenti berjuang karena banyak orang yang telah menghina beliau bahkan ada yang memanfaatkan beliau, tapi santai saja Gus, Tuhan itu adil pada hambanya, entah sampean dihina oleh orang banyak, dimanfaatkan oleh oknum yang tak cukup memiliki ilmu. sang kontrofersial adalah sebutan beliau. Karena beliau selalu memiliki ide yang nyeleneh kata orang-orang.

Apa jadinya NU (Nahdatul Ulama') atau bahkan Indonesia tanpa beliau mungkin tidak sepopuler sekarang, mungkin karena ketika beliau ceramah dimana-mana mesti membawa nama NU dan itu juga yang menjadikan NU terdengar dilalangan nasional maupun Internasional, seandainya pada kecelakaan yang telah dialaminya pada masa kecil menimpanya bersama Abah tercintanya kemudian Gus Dur kecil meninggal, mungkin tak kan pernah hadir The Wahid Institute, PKB, Tokoh Kontrofersi, Presiden ke-4, Ketua PBNU, dan lain-lain.

Sebenarnya saya bukannya terlalu memuji-muji beliau, bukan, namun kenyataanlah yang menyatakannya, masyarakatlah yang mempercayainya, keadaanlah yang menjadikan beliau luar biasa secara pikiran atau spiritual, dunia yang menjadikannya bisa, Tuhan memberinya imbalan atas kerja keras beliau semasa remaja, beliau bukan orang yang luar biasa jika beliau tidak pernah membaca, belajar, berfikir, didikan dari bunda beliau-Ibu Nyai Sholihah- sekaligus dari abah dan kakek beliau. Beliau memang orang biasa yang berpikiran luar biasa.

Setidaknya generasi muda bisa mencontohnya, meskipun tidak harus seperti beliau, tapi meniru saja tidak cukup kita perlu membaca sejarah dan biografi beliau yang telah di tulis oleh Greg Barton, peneliti asal Australia. Perjalanan beliau sejak kecil sudah di tuntut mandiri, meskipun beliau keturunan Tokoh sekaligus Kyai besar bukan lantasan Gus Dur kecil berdiam diri atas perjuangan 0rang tua beliau, bukan karena 'bukanlah remaja yang mengatakan inilah bapak saya, tetapi seorang remaja mengatakan inilah saya" menurutnya.

Pemikiran gus dur

Saya sering kagum melihat cara Gus Dur memecahkan sebuah masalah yang kelihatannya rumit dengan cara sederhana. Tetapi kadang pula masalah yang menurut banyak orang sederhana, malah di buat rumit oleh Gus Dur. Saya mendapat banyak masukan ketika mendengar ceramah dari beliau atau tulisan-tulisan beliau. Saya yakin Gus Dur akan di kenang sampai beratus-ratus tahun kemudian karena pemikirannya. Begitu juga dengan Fazlur Rahman, Imam Al-Ghozali, Imam Syafi'I, dan deretan penulis dan pemikir besar lainnya.

Membaela yang lemah

Bagiku Gus Dur telah banyak membela pihak yang tertindas dan juga kelompok minoritas, terlebih nasrani, lantasan kita sebagai santri bukan lantasan menganggap Gus Dur kafir atau murtad telah keluar dari islam karena membela kaum nasrani, bukan, Gus Dur membela nasrani bukan berarti gusdur nasrani karena itulah nilai-nilai islam yang terlupakan oleh kebanyakan kita tanpa kita sadari, justru seorang islam yang baik adalah yang menolong agama lain tidak hanya membela agamanya sendiri dan merasa sok paling benar dan egois tentang agamanya sendiri, itu telah di ajarkan Nabi tapi sayang kita sering memuja-muja Nabi tapi sedikit menjalankan ajaran nabi. agama islam telah mengajarkan Bertoleransi dan lebih-lebih membela yang lemah tanpa pandang kedudukan, agama, suku, maupun ras.

Beliau juga menjadi jembatan antara kaum tradisionalis dengan moderenis, antara sipil dengan militer, antara minoritas dengan mayoritas, serta antara pemerintah dengan LSM. Dengan posisinya yang demikian, siapa yang bisa mengalahkan dia?

Memang kebanyakan orang lain memandang tindakan Gus Dur itu tindakan yang buruk, tetapi justru mereka yang memandang buruk merekalah yang buruk, mereka yang merasa benar, tapi kenyataannya salah. Mengapa? Karena ilmu yang mereka miliki masih sedikit dan ilmu yang sedikit itu berbahaya. Sedangkan Gus Dur telah memiliki wawasan yang luas dari segia agama, non agama, social, spiritual, dan umum. Tak hanya kajian kitab saja yang pernah beliau pelajari, bahkan karya-karya Das Capital yang di tulis bapak sosialis, Karl Mark, What is tobe Done karya Vladimir Ilyich Lenin, dan Captain's Daughter karya Turgenef. lewat buku-buku inilah yang dapat mengantarkan Gus Dur menjadi pribadi yang liberal dan juga berpengetahuan luas.

Menghargai yang lain

Kata menghargai memang seakan mudah sekali dikatakann tapi jarang orang yang menghargai kelompok lain terutama yang lebih kecil atau tertindas . memang banyak orang berkata bahwa Gus Dur itu nyeleneh, tapi pada kenyataannya apakah itu benar?, bukannya nyleneh tapi pemahaman kita yang belum sampai atau sempit dalam pemikiran. Seperti contoh pandangan nyleneh beliau adalah dalam kasus Salman Rusdhie dengan The Satanic Verses (Ayat-ayat setan)-nya, terbit di London 1987. di kala hampir semua umat Islam di seluruh dunia mengecam buku ini, Gus Dur justru menganjurkan umat Islam untuk membaca novel karya Salmam Rushdie tersebut.

Banyak tokoh-tokoh ulama menentangnya tapi berbeda dengan Gus Dur yang kebetulan seorang putra seorang Kyai besar kelahiran Jombang yang sama sekali tidak menentang denagn keberadaan novel tersebut. Kemudian rahasia apa yang kemudian menjadi sejarah kita, sebagai umat manusia kita pasti tidak menolak agama kita menjadi bahan pelecehan, namun beberapa tahun kemudian banyak malah umat nasrani yang semakin belajar tentang islam, ironisnya kita yang beragama islam rasanya enggan sekali untuk mempelajari agama lain.

Beliau pernah mengkritik dalam sela-sela pembicaraannya, "saya tidak mau orang ngomong tanpa tahu masalahnya.ada orang yang anti komunisme tanpa mengerti komunisme itu apa. Ada yang anti neo liberalisme tanpa tahu liberalisme itu apa. Itu kan kebodohan."

Dari sinilah kita bisa mengintrospeksi atas tindakan dan kritik Gus Dur untuk bangkit dari keterpurukan kita selama ini, bahkan berabad-abad kita merindukan kedatangan kejayaan kita. Tanpa adanya pemikiran dan tindakan maka mustahil kejayaan akan kita peroleh. Tidak sedikit orang yang merasa bingung dengan tindakan Gus Dur, bila tanpa adanya penafsiran dari kita.

Menurut pandangan penulis Gus Dur bukan mencari sensasi atau popularitas dengan pendapatnya, atau asal asalan membela, sekali lagi bukan, Gus Dur jauh-jauh sebelumnya telah memikirkannya bahwa menghargai pendapat orang lain bukanlah hal yang mudah lebih-lebih ketika menyangkutkan masalah agama dan menjelekkannya.

Setidaknya kita juga bisa berpikir dari sebuah kritikan dan cacian, memang terasa pedih ketika agama kita yang kita cintai kemudian di hina habis-habisan. Allah juga berfirman "terkadang sesuatua yang kita benci baik bagi kita dan juga terkadang hal yang kita suka malah buruk bagi kita"

Dari situlah kita bisa tahu tentang kedewasaan pemikiran Gus Dur yaitu tidak mudah menyalahkan, tidak mudah egois ketika agamanya di hina, menghargai yang lebih lemah, dan berwawasan serta berpandangan luas. Penulis tidak terlalu memuji-muji atas prestasi Gus Dur, namun itulah adanya maka kita perlu belajar banyak dari Gus Dur. Meski secara fisik Gus Dur kurang mendukung, tapi ketika menginjak masalah pemikiran dan keintelektualan, tidak sedikit tokoh-tokoh dunia yang mengakuinya sebagai master of brain.

Bukan hanya itu saja, Beliau tidak pernah melarang untuk menghargai orang, sebesar atau sekecil apapun. Mungkin sejak dari kecil keluarga beliaulah yang telah menanamkan rasa tenggang rasa dan saling menghargai, ayah beliau KH. Wahid Hasyim, meski telah meninggal ketika beliau masih kecil juga menjadi insprasi beliau untuk modal kehidupan Gus Dur kecil mendatang.

sehingga tidak mengherankan jika sejak kecil telah terrekam nilai-nilai keadilan ditengah keluarganya. Missal saja ketika Gus Sholah, Gus Hasyim, Dan Gus Dur Bunda beliau tidak membeda-bedakan yang manakah yang harus di utamakan dalam keluarga, meski kadang anak pertama yang diutamakan. tapi bagi Nyai Sholihah (Ibu Gus Dur) semua sama.

Misal ketika banyak-banyaknya tokoh-tokoh agama melarang pemikirannya Ulil Absar Abdalla tentang Islam Liberal, lagi–lagi Gus Dur pun hadir untuk mendukung tanpa menyalahkannya terlebih dahulu dan merasa lebih benar dan lebih besar, bukan. Memang jarang kita temukan di tanah air kita sosok seperti Gus Dur yang begitu Nyeleneh dan vokal. Penulis berharap semoga lahir kembali sosok Gus Dur jilid dua.

beliau bukannya menyesatkan pemikiran Ulil Abshar Abdalla tapi beliau menghimbau masyarakat agar menghargai pendapat orang lain, tak perlu merasa paling benar. Bahkan kita bisa belajar dai Ulil tanpa menghujat pemahaman baru, semakin kita banyak belajar kita akan semaklin tahu, dan ketika semakin tahu maka tidak mudah menyalahkan orang lain. Ini juga menjadi bukti tentang keluasan ilmu Gus Dur.

Mengutamakan nilai kemanusiaan

Gus Dur lebih mengedepankan nilai-nilai kemanusiaan, ketimbang nilai-nilai keagamaan, dalam berinteraksi dengan umat agama yang lain. Karena lagi-lagi Gus Dur memang sangat demokrasi dalam setiap langkah beliau. Sedangkan pelopor pembaharuan IslamIndonesia Ahmad Wahib mengatakan : "tidak banyak pemikir Islam yang menaruh minat pada banyak hal sekaligus tanpa kehilangan kedalaman dan orisinilitas. Dalam hal ini, mungkin hanya Abdurrahman Wahid yang melebihinya"


Tak menyerah dengan kritikan

Mungkin ini kelemahan dari Gus Dur, terkadang Gus Dur tak mempan terhadap kritik dan kurang sabaran. Tokoh-tokoh NU yang dekat dengan Kyai Wahid mengatakan bahwa perbedaan terbesar antara Kyai Wahid dan Gus Dur adalah kesabaran. Kyai Wahid dan Kyai Hasyim Asy'ari sangatlah sabar dan ini berbeda jauh dengan Gus Dur yang tidak sabaran. Tapi bagi saya kelebihan Gus Dur sangatlah banyak dibandingkan dengan kekurangannya.

Sepedas apapun kritikan yang beliau terima beliau selalu tertawa, seakan beliau senjata ini tak mempan lagi. Meski demikian beliau juga menerima saran kepada orang-orang tertentu. Begitu menurut pendapat dari saudara-saudara beliau.


Bagaimana memahami pemikiran Gus Dur

Menurut Areif Hakim, bahwa untuk memahami pemikiran Gus Dur ada tiga kunci yang harus di perhatikan liberalisme, demokrasi, dan universalisme. Sehingga kita tidak heran dengan pendapat-pendapat Gus Dur dan kita bisa memakluminya. Artinya, bukan Gus Dur yang mendahului zamanya, tetapi terkadang masih banyak orang yang terlalu sempit pandangannya dalam mengekspresikan sepak terjang Gus Dur1.

Bahkan Cak Nun (panggilan akrab Emha Ainun Nadjib) pernah mengatakan Orang gila yaitu Gus Dur, tentunya bukan gila yang negatif dalam hal ini gilanya Gus Dur lebih dari pada gilanya orang gila yaitu menggagas apa yang tidak digagas orang lain, memikirkan apa yang tidak dipikirkan orang lain, dan membayangkan apa yang tidak dibayangkan oleh orang lain2.

Hal ini teramat sulit bagi kita untuk berpikir apa yang tidak dipikirkan orang lain, bukannya kita tidak mampu, bukan. Hanya saja jarang manusia yang mau untuk menjadi yang wajar saja tentunya dalam hal pemikiran.

Bagi penulis Gus Dur bukan saja dekat dengan kalangan pemerintahan atau tokoh –tokoh besar Nasional atau Internasional, tapi juga dekat dengan kalangan Kyai, santri, dan rakyat kecil. Hal itu yang menjadikan banyak sekali kalangan yang mengenal tokoh yang juga suka berkelana. Beliau sangat peduli sekali dengan silaturrahmi, dan yang paling menjadi sorotan pubilk ketika menjabat sebagai presiden RI yang ke-4, beliau amat sering berkunjung kenegara-negara lain. Sampai-sampai telah membuat kalang kabut pihak Paspampres dan Protokol Istana dikarenakan hobi Gus Dur bersilaturrahmi ke rumah-rumah tokoh.dan juga sering diperingati berkali-kali oleh pajabat pemerintahan agar tidak sering-sering mengadakan kunjungan.

Meski telah menjadi presiden beliau tetap Nyeleneh, dengan banyaknya kunjungan atau silaturahmi kenegara-negara lain mungkin akan mempererat hubungan antar Negara dan akan menjadikan ekonomi dan keadaan Indonesia semakin baik, tapi lagi-lagi mereka salah memahami tindakan Gis Dur, begitu pendapat penulis.

Terkadang sosok Gus Dur juga selalu membawa selera humorisnya yang cukup dan menarik. Penulis pernah mendengar sebuah cerita dari beliau. Suatu hari di Pesantren Nurul Huda Singosari Malang kedatangan beliau dalam selingan pidatonya beliau bertanya pada para hadirin, "lebih mulia mana antara Kyai dan supir Bus?"dengan nada keras. lantas tak lama kemudian Gus Dur menjawab "lebih mulia sopir bus dari pada Kyai, karena Kyai hanya membuat santrinya tenang dan santai menghadapi kematian serta mengingat Allah. Sedangakn supir bus selalu membuat penumpangnya ingat selalu pada Allah karena khawatir kecelakaan dan kemudian mati, lebih-lebih yang ugal-ugalan" serentak para hadirin tertawa.

Hal ini menjadi cerminan dan hikmah bahwa tak semua yang baik selalu berdampak yang baik. Begitu juga yang buruk tidak selamanya membawa dampak yang buruk. Sekaligus memberi kritikan kepada Kyai agar lebih introspeksi lagi untuk membimbing santrinya

Dari perkataan Cak Nun kita buisa menyimpulkan dari mana munculnya pemikiran Nyleneh dan kontroversinya Gus Dur?. Kita sebagai remaja selayaknya berpikir dan berpikir tidak hanya apa yang harus kita pikirkan saja, tetapi lebih dari itu. Bukannya dalam Al-Qur'an Allah selalu berseru"Afala Ta'qilun, Afala tatadzakkarun, Afala tubsirun, Afala Tatafakkarun" dan itu selalu diulang-ulang karena tidak lain agar manusia yang telah diberi oleh Allah akal serta pikiran agar berpikir selalu. Dan juga menandakan penekanan (Taukid) yang memiliki esensi penting dan wajib untuk dilakukan.

Perlu kita ketahui hampir semua orang yang gemar membaca bisa mengantarkan menuju jalur kesuksesan, Almarhum Cak Nur yang setiap harinya menjadwalkan untuk selalu membaca entah buku, novel, atau kitab tak lama kemudian menjadi tokoh cendekiawan Indonesia. Begitu juga yang di alami Gus Dur hingga kesehatan mata beliau sudah tak memungkinkan lagi.


Gud Dur Tak perlu dipuji, pujilah prosesnya yang dialami beliau. Kebanyakan orang melihat tinggi tanpa melihat arti proses. Bagiku Gus Dur memiliki banyak sekali predikat, sebagai Guru Bangsa, sebagai Pemimpin, sebagai cendekiawan, sebagai Ulama', sebagai Kyai, sebagai kaum sosialis sekaligus demokratis, sebagai pelawak intelek, dan masih banyak lagi yang tak perlu di uraikan dalam tulisan ini.

Bagi penulis mengapa Gus Dur begitu luas wawasannya, dalam buku "SAMA tapi BERBEDA" Ning Aisyah Hamid Baidlowi mengatakan bahwa Gus Dur sejak kecil ia juga biasa menulis dan sering mengirimkan tulisa-tulisannya ke berbagai media. Ketika Ibu Sholihah mendapat royalti dari penjualanbuku riwayat hidup Kyai Wahid, sebagian dari hasil royalti itu yaitu sebanyak 6000 US dolar dikirimkan kepada Gus Dur ternyata semua uang yang dikirimkan di belikan buku olehnya. Kemudian buku yang jumlahnya berkoper-koper itu di kirimkan ke Jakarta dengan menggunakan kapal laut. Tidak terpikir olehnya untuk membeli barang-barang yang lain. Memang kecintaannya kepada buku tergolong luar biasa.

Gus Dur telah banyak menyumbang pemikiran dan intelektual di Indonesia. Gus Dur tidak membatasi pemikirannya pada khazanah pemikiran Islam saja. Ia merambah kepada pemikiran filsafat barat. Jadi, akhirnya orang tidak mempunyai pemahaman yang jelas, sebenarnya Gus Dur tempatnya dimana sih. Tetapi bagi orang yang pengamatannya cermat seperti Jhon L. Esposito, Gus Dur ditempatkan sebagai salah seorang yang menciptakan Islam kontemporer.











1 kenyataan, Liberalisme, demokrasi, dan universalisme selama ini telah menjadi concern Gus Dur. Lihat M. Arief Hakim, 'Gus Dur dan Demokrasi", dalam Bernas, 10 Mei 1993.
2 Emha Ainun Nadjib,'Bunga di Tepi Jalan", dalam Jawa Pos, 8 Agustus 1993. tulisan ini merupakan tanggapan atas tulisan Gus Dur pada haria yang sama, 27 Juni 1993, "krisis pemikiran dan Krisis Ketertarikan", yang kemudian menjadi polemik panjang, dan mendapat tanggapan banyak pihak, dan ditutup dengan tiga tulisan Gus Dur secara bersambung.




Daftar Pustaka

Ali Yahya. Sama tapi berbeda,potret keluarga besar KH.A. Wahid Hasyim. Jombang: pustaka IKAPETE,2007

Abdurrahman Wahid. Mengurangi Hubungan Agama dan Negara. Jakarta: Gramedia Widiasarana Indonesia, 1999





Ahsani Fatchur Rahman
Santri Pondok Pesantren Al-Ishlah Putra "Langgar Genteng"
Jl. Kramat 80 Singosari Malang 65153 Jawa Timur
081333061965 / (0341) 441346








SURAT BUAT GUS DUR

Gus, izinkan saya sedikit menulis untukmu, di ulang tahunmu yang ke-67 tahun (4 agustus 1940 – 4 Agustus 2007). 67 tahun bukanlah lama bagimu untuk memperjuangkan semua yang perlu di perjuangkan. Semoga Tuhan memberi Njenengan umur yang panjang, demi bangsa ini, demi agama ini, dan demi segala yang tak pernah aku pikirkan.

Gus teruskan perjuanganmu demi keadilan, kedamaian, kebenaran, dan atas nama Tuhan. Meski saya sebenarnya ingin berjuang seperti Njenengan tapi apakah saya ini, saya hanya santri desa yang tidak tahu apa-apa, tapi saya sangat kagum dengan njenengan Gus.

Gus, saya tahu perjuangan njenengan sangat besar dan berat sekali, entah masih banyak orang yang menghujat, menghina, atau bahkan memanfaatkan njenengan demi posisi mereka mendapatkan kursi politik dari beberapa oknum atau partai yang ujung-ujungnya duit dan menfitnah njenengan. Memang mereka manusia tapi mereka tidak manusiawi, nyatanya njenengan jelas-jelas berusaha untuk bangsa dan agama,

tapi mereka selalu saja memiliki alasan untuk menjatuhkan njenengan, mungkin mereka takut kali dengan Njenengan Gus. Tapi santai saja gus Tuhan itu adil pada hambanya, tak usah getar menghadapi siapapun yang menjatuhkan njenengan, njenengan tak perlu membalasnya biar Tuhan yang membalasnya Gus. Toh mereka juga belum mengerti hakikat hidup, jadi mereka hidup seenaknya.

Saya pernah membaca tulisan Panjenengan, kurang lebihnya "Tuhan tidak perlu di bela", pertama baca saya kaget, mengapa Njenengan mengatakan seperti itu? Dengan seiring waktu saya semakin mengerti memang Tuhan tidak perlu diobela, karena tuhan maha segalanya, dan yang perlu di bela bukan Tuhan tapi ajarannya, ya nggak Gus.

Begitu banyak kelebihan Njenengan, tapi masih ada kelemahan Njenegan yang perlu di perhatikan. Sebenarnya kami tidak sopan mengkritik anda tentang kekurang sabaran, susah menerima pendapat njenengan, dan lainnya. Tapi lebih tidak sopan lagi bila saya membiarkan Njenengan dalam kekurangan menrurt pendapat kami. saya sadar saya bukanlah siapa-siapa, tapi saya memiliki hak untuk mngkritik dan mengkagumi Njenengan.

Dan mungkin hanya dengan kesempatan ada lomba menulis saya bisa menyampaikan sedikit unek-unek yang selama ini terpendam dihati saya. Atau bahkan tidak diterima. Bisa juga tulisan ini hanya sebagai samapah saja, taka apa-apa ini bukan hanya cerita tapi kisah nyata. Tak perlu menutup mata cukup buka hati bagiku saya memang tak ber arti di bandingakan dengan Njenengan..

Puisi tentang Njenegan

Gus,
Ketika Njenengan naik jadi pemimpin negeri ini
hati kami dan nyali kami
yang memang kecil ketar-ketir
terus terang kami takut dan khawatir
melihat banyak kepentingan yang tidak selaras
dengan kepentingan bangsa
membelit Njenengan


mereka yang tak rela Njenengan selamet
mengintip dan menguntit terus
mulai yang tersembunyi dan sulit dikenali,
sampai yang terang-terangan dan kasar
hingga rakyatmu yang tak pernah makan
sekolahpun tahu kekasarannya
apa mau mereka, Gus?

Apa mereka ndak mau
Negeri ini bangun dan bangkit
Mereka kok begitu nggak sabar…

Waduh kok mentolo bener mereka itu
sama kami yang kecil ini.

Lalu mereka yang menyebut dirinya
pendukung Njenengan
Kok ada yang malah rebut banca'an dan royo'an
Dulu sering ngenyek orde baru
yang katanya suka makan kue sendirian

Kok sekarang malah mereka merasa
kue itu milik mereka seorang
Kami yang kecil saja tahu
Kalau itu memalukan
Dan yang pasti menyusahkan Njenengan Gus….

Gus,
Tetaplah menjadi guru bangsa
Jadi guru kami semua

Jangan sampai luntur keinginan Njenengan...
Untuk mendidik bangsa ini agar lebih dewasa
Do'a kami yang insyaallah madzlum ini
Akan selalu menyertai Njenengan

Selamat berjuang Gus…
Semoga Njengan selalu diparingi sabar dan petunjuk
Untuk kita semua
Untuk kami juga
Amien…..

Penghargaan Dunia Buat Gus Dur


Di tengah kepenatan mengurus konflik PKB, Gus Dur terbang ke AS. Di Negeri Paman Sam, Ketua Dewan Syura PKB itu tampil sebagai nara sumber sejumlah forum. Ia juga menerima dua penghargaan internasional.
Tentu, Gus ke AS bukan karena menghindar dari konflik yang tengah menggerayangi tubuh bagian dalam PKB. Ia bertolak Minggu (4/5) karena ajakan menjadi pembicara beberapa forum akademis dan kebudayaan di sana.
Lebih dari itu, Gus Dur juga berkesempatan menerima dua tanda penghargaan tingkat internasional. Penghargaan pertama didapat dari Simon Wieshenthal Center, yayasan yang bergerak di bidang penegakan HAM dan toleransi antarumat beragama. Penghargaan serupa diberikan kepada 12 aktivis, enam di antaranya kemudian menerima Nobel Perdamaian.
Lembaga yang berkantor di New York itu menilai Gus Dur adalah salah satu tokoh yang peduli terhadap persoalan HAM. Karenanya, dinilai layak Gus Dur menerima Medals of Valor, sebuah penghargaan bagi personal yang gigih memperjuangkan pluralisme dan multikulturalisme.
Penghargaan kedua diperoleh Gus Dur dari Temple University, Philadelphia. Nama KH Abdurrahman Wahid, nama lengkap Gus Dur, didedikasikan perguruan tinggi itu untuk jabatan profesor ahli studi agama. Gus Dur dinilai sebagai salah satu tokoh di dunia Islam yang berjuang untuk dialog antaragama.
Selain menerima penghargaan, Gus Dur direncanakan berbicara tentang hubungan antarumat beragama di George Washington University, Washington DC. Di ibu kota AS itu, pendiri The WAHID Institute ini juga bertemu sejumlah senator AS dan staf Gedung Putih.
Mantan Ketua Umum PBNU ini juga akan mengadakan pertemuan dengan tokoh dan LSM perdamaian di New York. Ia akan menyampaikan pandangannya tentang agama dan perdamaian dunia dalam Konferensi Internasional untuk Agama dan Perdamaian.
Konferensi itu diimpin Taj Hamad, seorang muslim AS berdarah Sudan yang menjadi Sekjen World Association of Non-Governmental Organizations. Gus Dur juga pernah memimpin konferensi itu saat menjabat sebagai Presiden RI.
Zannuba Arifah Chafsoh alias Yenny Wahid yang menyertai perjalanan Gus Dur mengatakan, pemberian penghargaan itu adalah buah dari upaya Gus Dur memperjuangkan Islam rahmatan lil’alamin.
Menurut Yenny, sejak awal Gus Dur sangat menentang aksi kekerasan atas nama agama. Gus Dur direncanakan kembali ke Tanah Air, Rabu (14/5).
Berdasarkan riwayat yang dicatat oleh The Wahid Institute, nama Abdurrahman berarti ‘Addakhil’. Secara leksikal, ‘Addakhil’ berarti ‘Sang Penakluk’, sebuah nama yang diambil Wahid Hasyim, orangtuanya, dari seorang perintis Dinasti Umayyah yang telah menancapkan tonggak kejayaan Islam di Spanyol.
Belakangan, kata ‘Addakhil’ tidak cukup dikenal dan diganti nama ‘Wahid’. Maka, jadilah nama Abdurrahman Wahid yang kemudian lebih dikenal dengan panggilan Gus Dur. Gus adalah nama panggilan kehormatan khas pesantren kepada seorang anak kyai. Artinya abang atau mas.
Gus Dur adalah putra pertama dari enam bersaudara yang dilahirkan di Denanyar Jombang, Jawa Timur, 4 Agustus 1940. Secara genetik, Gus Dur adalah keturunan ‘darah biru’. Ayahnya, KH Wahid Hasyim, adalah putra KH Hasyim Asy'ari, pendiri jam'iyah Nahdlatul Ulama (NU), organisasi massa Islam terbesar di Indonesia, dan pendiri Pesantren Tebu Ireng Jombang.
Ibundanya, Ny Hj Sholehah, adalah putri pendiri Pesantren Denanyar Jombang, KH Bisri Syamsuri. Kakek dari pihak ibunya ini juga tokoh NU yang menjadi Rais 'Aam PBNU setelah KH Abdul Wahab Hasbullah. Jadi, Gus Dur adalah cucu dari dua ulama NU dan dua tokoh bangsa Indonesia sekaligus.
Pada 1949, ketika clash dengan pemerintahan Belanda berakhir, ayahnya diangkat sebagai Menteri Agama RI pertama sehingga keluarga Wahid Hasyim pindah ke Jakarta.
Tamu-tamu yang terdiri atas para tokoh berbagai bidang dan profes yang sebelumnya dijumpai di rumah kakeknya, berlanjut ketika ayahnya menjadi Menteri agama.
Hal ini memberikan pengalaman tersendiri bagi seorang anak bernama Abdurrahman Wahid. Secara tidak langsung, Gus Dur juga mulai berkenalan dengan dunia politik yang didengar dari kolega ayahnya yang sering mangkal di rumahnya.
Sejak masa kanak-kanak, ibunya telah ditandai berbagai isyarat bahwa Gus Dur akan mengalami garis hidup yang berbeda dan memiliki kesadaran penuh akan tanggung jawab terhadap NU.