
Di tengah kepenatan mengurus konflik PKB, Gus Dur terbang ke AS. Di Negeri Paman Sam, Ketua Dewan Syura PKB itu tampil sebagai nara sumber sejumlah forum. Ia juga menerima dua penghargaan internasional.
Tentu, Gus ke AS bukan karena menghindar dari konflik yang tengah menggerayangi tubuh bagian dalam PKB. Ia bertolak Minggu (4/5) karena ajakan menjadi pembicara beberapa forum akademis dan kebudayaan di sana.
Lebih dari itu, Gus Dur juga berkesempatan menerima dua tanda penghargaan tingkat internasional. Penghargaan pertama didapat dari Simon Wieshenthal Center, yayasan yang bergerak di bidang penegakan HAM dan toleransi antarumat beragama. Penghargaan serupa diberikan kepada 12 aktivis, enam di antaranya kemudian menerima Nobel Perdamaian.
Lembaga yang berkantor di New York itu menilai Gus Dur adalah salah satu tokoh yang peduli terhadap persoalan HAM. Karenanya, dinilai layak Gus Dur menerima Medals of Valor, sebuah penghargaan bagi personal yang gigih memperjuangkan pluralisme dan multikulturalisme.
Penghargaan kedua diperoleh Gus Dur dari Temple University, Philadelphia. Nama KH Abdurrahman Wahid, nama lengkap Gus Dur, didedikasikan perguruan tinggi itu untuk jabatan profesor ahli studi agama. Gus Dur dinilai sebagai salah satu tokoh di dunia Islam yang berjuang untuk dialog antaragama.
Selain menerima penghargaan, Gus Dur direncanakan berbicara tentang hubungan antarumat beragama di George Washington University, Washington DC. Di ibu kota AS itu, pendiri The WAHID Institute ini juga bertemu sejumlah senator AS dan staf Gedung Putih.
Mantan Ketua Umum PBNU ini juga akan mengadakan pertemuan dengan tokoh dan LSM perdamaian di New York. Ia akan menyampaikan pandangannya tentang agama dan perdamaian dunia dalam Konferensi Internasional untuk Agama dan Perdamaian.
Konferensi itu diimpin Taj Hamad, seorang muslim AS berdarah Sudan yang menjadi Sekjen World Association of Non-Governmental Organizations. Gus Dur juga pernah memimpin konferensi itu saat menjabat sebagai Presiden RI.
Zannuba Arifah Chafsoh alias Yenny Wahid yang menyertai perjalanan Gus Dur mengatakan, pemberian penghargaan itu adalah buah dari upaya Gus Dur memperjuangkan Islam rahmatan lil’alamin.
Menurut Yenny, sejak awal Gus Dur sangat menentang aksi kekerasan atas nama agama. Gus Dur direncanakan kembali ke Tanah Air, Rabu (14/5).
Berdasarkan riwayat yang dicatat oleh The Wahid Institute, nama Abdurrahman berarti ‘Addakhil’. Secara leksikal, ‘Addakhil’ berarti ‘Sang Penakluk’, sebuah nama yang diambil Wahid Hasyim, orangtuanya, dari seorang perintis Dinasti Umayyah yang telah menancapkan tonggak kejayaan Islam di Spanyol.
Belakangan, kata ‘Addakhil’ tidak cukup dikenal dan diganti nama ‘Wahid’. Maka, jadilah nama Abdurrahman Wahid yang kemudian lebih dikenal dengan panggilan Gus Dur. Gus adalah nama panggilan kehormatan khas pesantren kepada seorang anak kyai. Artinya abang atau mas.
Gus Dur adalah putra pertama dari enam bersaudara yang dilahirkan di Denanyar Jombang, Jawa Timur, 4 Agustus 1940. Secara genetik, Gus Dur adalah keturunan ‘darah biru’. Ayahnya, KH Wahid Hasyim, adalah putra KH Hasyim Asy'ari, pendiri jam'iyah Nahdlatul Ulama (NU), organisasi massa Islam terbesar di Indonesia, dan pendiri Pesantren Tebu Ireng Jombang.
Ibundanya, Ny Hj Sholehah, adalah putri pendiri Pesantren Denanyar Jombang, KH Bisri Syamsuri. Kakek dari pihak ibunya ini juga tokoh NU yang menjadi Rais 'Aam PBNU setelah KH Abdul Wahab Hasbullah. Jadi, Gus Dur adalah cucu dari dua ulama NU dan dua tokoh bangsa Indonesia sekaligus.
Pada 1949, ketika clash dengan pemerintahan Belanda berakhir, ayahnya diangkat sebagai Menteri Agama RI pertama sehingga keluarga Wahid Hasyim pindah ke Jakarta.
Tamu-tamu yang terdiri atas para tokoh berbagai bidang dan profes yang sebelumnya dijumpai di rumah kakeknya, berlanjut ketika ayahnya menjadi Menteri agama.
Hal ini memberikan pengalaman tersendiri bagi seorang anak bernama Abdurrahman Wahid. Secara tidak langsung, Gus Dur juga mulai berkenalan dengan dunia politik yang didengar dari kolega ayahnya yang sering mangkal di rumahnya.
Sejak masa kanak-kanak, ibunya telah ditandai berbagai isyarat bahwa Gus Dur akan mengalami garis hidup yang berbeda dan memiliki kesadaran penuh akan tanggung jawab terhadap NU.
Tentu, Gus ke AS bukan karena menghindar dari konflik yang tengah menggerayangi tubuh bagian dalam PKB. Ia bertolak Minggu (4/5) karena ajakan menjadi pembicara beberapa forum akademis dan kebudayaan di sana.
Lebih dari itu, Gus Dur juga berkesempatan menerima dua tanda penghargaan tingkat internasional. Penghargaan pertama didapat dari Simon Wieshenthal Center, yayasan yang bergerak di bidang penegakan HAM dan toleransi antarumat beragama. Penghargaan serupa diberikan kepada 12 aktivis, enam di antaranya kemudian menerima Nobel Perdamaian.
Lembaga yang berkantor di New York itu menilai Gus Dur adalah salah satu tokoh yang peduli terhadap persoalan HAM. Karenanya, dinilai layak Gus Dur menerima Medals of Valor, sebuah penghargaan bagi personal yang gigih memperjuangkan pluralisme dan multikulturalisme.
Penghargaan kedua diperoleh Gus Dur dari Temple University, Philadelphia. Nama KH Abdurrahman Wahid, nama lengkap Gus Dur, didedikasikan perguruan tinggi itu untuk jabatan profesor ahli studi agama. Gus Dur dinilai sebagai salah satu tokoh di dunia Islam yang berjuang untuk dialog antaragama.
Selain menerima penghargaan, Gus Dur direncanakan berbicara tentang hubungan antarumat beragama di George Washington University, Washington DC. Di ibu kota AS itu, pendiri The WAHID Institute ini juga bertemu sejumlah senator AS dan staf Gedung Putih.
Mantan Ketua Umum PBNU ini juga akan mengadakan pertemuan dengan tokoh dan LSM perdamaian di New York. Ia akan menyampaikan pandangannya tentang agama dan perdamaian dunia dalam Konferensi Internasional untuk Agama dan Perdamaian.
Konferensi itu diimpin Taj Hamad, seorang muslim AS berdarah Sudan yang menjadi Sekjen World Association of Non-Governmental Organizations. Gus Dur juga pernah memimpin konferensi itu saat menjabat sebagai Presiden RI.
Zannuba Arifah Chafsoh alias Yenny Wahid yang menyertai perjalanan Gus Dur mengatakan, pemberian penghargaan itu adalah buah dari upaya Gus Dur memperjuangkan Islam rahmatan lil’alamin.
Menurut Yenny, sejak awal Gus Dur sangat menentang aksi kekerasan atas nama agama. Gus Dur direncanakan kembali ke Tanah Air, Rabu (14/5).
Berdasarkan riwayat yang dicatat oleh The Wahid Institute, nama Abdurrahman berarti ‘Addakhil’. Secara leksikal, ‘Addakhil’ berarti ‘Sang Penakluk’, sebuah nama yang diambil Wahid Hasyim, orangtuanya, dari seorang perintis Dinasti Umayyah yang telah menancapkan tonggak kejayaan Islam di Spanyol.
Belakangan, kata ‘Addakhil’ tidak cukup dikenal dan diganti nama ‘Wahid’. Maka, jadilah nama Abdurrahman Wahid yang kemudian lebih dikenal dengan panggilan Gus Dur. Gus adalah nama panggilan kehormatan khas pesantren kepada seorang anak kyai. Artinya abang atau mas.
Gus Dur adalah putra pertama dari enam bersaudara yang dilahirkan di Denanyar Jombang, Jawa Timur, 4 Agustus 1940. Secara genetik, Gus Dur adalah keturunan ‘darah biru’. Ayahnya, KH Wahid Hasyim, adalah putra KH Hasyim Asy'ari, pendiri jam'iyah Nahdlatul Ulama (NU), organisasi massa Islam terbesar di Indonesia, dan pendiri Pesantren Tebu Ireng Jombang.
Ibundanya, Ny Hj Sholehah, adalah putri pendiri Pesantren Denanyar Jombang, KH Bisri Syamsuri. Kakek dari pihak ibunya ini juga tokoh NU yang menjadi Rais 'Aam PBNU setelah KH Abdul Wahab Hasbullah. Jadi, Gus Dur adalah cucu dari dua ulama NU dan dua tokoh bangsa Indonesia sekaligus.
Pada 1949, ketika clash dengan pemerintahan Belanda berakhir, ayahnya diangkat sebagai Menteri Agama RI pertama sehingga keluarga Wahid Hasyim pindah ke Jakarta.
Tamu-tamu yang terdiri atas para tokoh berbagai bidang dan profes yang sebelumnya dijumpai di rumah kakeknya, berlanjut ketika ayahnya menjadi Menteri agama.
Hal ini memberikan pengalaman tersendiri bagi seorang anak bernama Abdurrahman Wahid. Secara tidak langsung, Gus Dur juga mulai berkenalan dengan dunia politik yang didengar dari kolega ayahnya yang sering mangkal di rumahnya.
Sejak masa kanak-kanak, ibunya telah ditandai berbagai isyarat bahwa Gus Dur akan mengalami garis hidup yang berbeda dan memiliki kesadaran penuh akan tanggung jawab terhadap NU.


